Nyawa Terancam! Bantu Kembar Siam Operasi

Penderma.id

Total Kebutuhan:

Rp 2.000.000.000

Muhamad Nur Syafa’at dan Muhamad Nur Hidayat adalah anak kembar yang terlahir siam (menempel). Mereka hidup hanya dengan satu kelamin (laki-laki), satu saluran anus, serta kaki berjumlah empat yang terlihat seperti hanya berjumlah tiga karena terdapat kaki yang berdempetan. Meski Syafa’at dan Hidayat memiliki jantung dan lambungnya masing-masing, tetapi ginjal dan paru-parunya hanya terdapat satu pasang untuk mereka berdua. 


Sejak dalam kandungan hingga lahir ke dunia, Syafa’at dan Hidayat harus berbagi makanan, nutrisi, dan ruang untuk saling menguatkan. Hingga saat ini, untuk berjalan pun mereka harus menggunakan kedua tangan mereka masing-masing. Terkadang, mereka saling berebut dan saling menarik jika ingin bergerak ke suatu tempat di ruangan rumah mereka yang sederhana dan sempit. 

Kini, usia mereka berdua sudah menginjak 5 tahun. Tulang yang berdempet kian mengeras dan penyakit komplikasi mengancam nyawa keduanya. Operasi pemisahan keduanya membutuhkan biaya sangat besar yakni mencapai 3 miliar rupiah. 

Menurut Pak Azis (40 tahun), orangtua sang bayi kembar, biaya yang ditanggung oleh BPJS hanya sekitar 200 juta. “Sisa kebutuhan untuk membiayai operasi saya dapat dari mana Pak. Untuk makan sehari-hari, bayar sekolah anak-anak dan bayar kontrakan saja saya harus bekerja siang malam,” lirih Pak Azis.


Bu Dini (40 tahun), ibunda si kembar, tidak bisa membayangkan jika Syafa’at dan Hidayat harus hidup dalam keadaan menyatu hingga dewasa nanti. “Dengan hanya memiliki satu anus dan satu kelamin, saya tidak bisa membayangkan bagaimana ke depannya. Operasi pemisahan juga punya risiko yang tak kalah tinggi. Tapi mau bagaimana? Demi masa depan mereka nantinya,” keluh Bu Dini. 

Menurut Pak Azis dan Bu Dini, tim dokter yang menangani menyatakan bahwa operasi pemisahan memang mungkin dilakukan. Hanya saja, risikonya tetap besar: akan ada salah satu anak yang memiliki saluran anus buatan dan berubah kelamin dari laki-laki menjadi perempuan.

Pak Azis dan Bu Dini tidak memungkiri bahwa mereka telah menerima bantuan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah setempat, dinas sosial, lembaga, maupun individu. Namun bantuan tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan biaya operasi pemisahan dan hanya cukup untuk biaya kontrol ke rumah sakit. 


Sehari-harinya, Pak Azis bekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Pak Azis menjalani berbagai pekerjaan untuk menyambung hidup dan mengumpulkan biaya pengobatan mulai dari kuli bangunan, tukang las, memperbaiki perabotan, servis elektronik sampai membuat tanaman hias seperti bonsai. Di sisi lain, Bu Dini tidak ada waktu dan tenaga untuk bekerja karena mesti mengurusi si kembar dan anak-anaknya yang lain. Biaya kontrakannya sendiri adalah 650 ribu per bulan, biaya obat-obatan si kembar mencapai 750 ribu per bulan dan itu belum termasuk biaya kontrol dan juga transportasi dari Subang ke Bandung yang jika ditotal mencapai lebih dari tiga juta rupiah. 

“Meski berat, saya percaya Allah memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Jika nyawa saya bisa ditukar untuk kesembuhan Syafa’at dan Hidayat, Insya Allah saya rela, Pak, apapun saya lakukan,” ungkap Pak Azis sambil menangis. 

Para penderma, mari kita bantu perjuangan Pak Azis dan Bu Dini untuk menyelamatkan dua malaikat kecilnya yang mesti segera dioperasi sebelum kondisinya semakin gawat.

Disclaimer:

1.  Donasi hanya akan disalurkan kepada penerima manfaat dengan tujuan memberikan pertolongan untuk orang-orang yang membutuhkan.

2.  Donasi juga akan disalurkan kepada pihak lain (penerima manfaat yang sejenis) di luar kampanye galang dana ini yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh penderma.id. 

3.  Tim penderma.id akan menentukan penyaluran bantuan berdasarkan bebagai faktor, seperti urgensi penerima manfaat, kecukupan dana, dan faktor lainnya 

4.  Cerita yang ada di halaman kampanye ini akan diganti secara berkala sesuai dengan topik dan kebutuhan orang-orang yang membutuhkan.

 Risnaldi Priandana
Risnaldi Priandana - Rp 30.000
 Eno
Eno - Rp 10.000
 M
M - Rp 10.000
 Risnaldi Priandana
Risnaldi Priandana - Rp 40.000
 WFA
Hamba Allah - Rp 50.000
 a
a - Rp 10.000
 Syarifah Muthia Putri
Syarifah Muthia Putri - Rp 10.000
 Iman
Hamba Allah - Rp 50.000
Semoga diberi kesehatan
 mesi
mesi - Rp 20.000
 Aty Kurniawati
Aty Kurniawati - Rp 100.000

Muhamad Nur Syafa’at dan Muhamad Nur Hidayat adalah anak kembar yang terlahir siam (menempel). Mereka hidup hanya dengan satu kelamin (laki-laki), satu saluran anus, serta kaki berjumlah empat yang terlihat seperti hanya berjumlah tiga karena terdapat kaki yang berdempetan. Meski Syafa’at dan Hidayat memiliki jantung dan lambungnya masing-masing, tetapi ginjal dan paru-parunya hanya terdapat satu pasang untuk mereka berdua. 


Sejak dalam kandungan hingga lahir ke dunia, Syafa’at dan Hidayat harus berbagi makanan, nutrisi, dan ruang untuk saling menguatkan. Hingga saat ini, untuk berjalan pun mereka harus menggunakan kedua tangan mereka masing-masing. Terkadang, mereka saling berebut dan saling menarik jika ingin bergerak ke suatu tempat di ruangan rumah mereka yang sederhana dan sempit. 

Kini, usia mereka berdua sudah menginjak 5 tahun. Tulang yang berdempet kian mengeras dan penyakit komplikasi mengancam nyawa keduanya. Operasi pemisahan keduanya membutuhkan biaya sangat besar yakni mencapai 3 miliar rupiah. 

Menurut Pak Azis (40 tahun), orangtua sang bayi kembar, biaya yang ditanggung oleh BPJS hanya sekitar 200 juta. “Sisa kebutuhan untuk membiayai operasi saya dapat dari mana Pak. Untuk makan sehari-hari, bayar sekolah anak-anak dan bayar kontrakan saja saya harus bekerja siang malam,” lirih Pak Azis.


Bu Dini (40 tahun), ibunda si kembar, tidak bisa membayangkan jika Syafa’at dan Hidayat harus hidup dalam keadaan menyatu hingga dewasa nanti. “Dengan hanya memiliki satu anus dan satu kelamin, saya tidak bisa membayangkan bagaimana ke depannya. Operasi pemisahan juga punya risiko yang tak kalah tinggi. Tapi mau bagaimana? Demi masa depan mereka nantinya,” keluh Bu Dini. 

Menurut Pak Azis dan Bu Dini, tim dokter yang menangani menyatakan bahwa operasi pemisahan memang mungkin dilakukan. Hanya saja, risikonya tetap besar: akan ada salah satu anak yang memiliki saluran anus buatan dan berubah kelamin dari laki-laki menjadi perempuan.

Pak Azis dan Bu Dini tidak memungkiri bahwa mereka telah menerima bantuan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah setempat, dinas sosial, lembaga, maupun individu. Namun bantuan tersebut belum bisa memenuhi kebutuhan biaya operasi pemisahan dan hanya cukup untuk biaya kontrol ke rumah sakit. 


Sehari-harinya, Pak Azis bekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Pak Azis menjalani berbagai pekerjaan untuk menyambung hidup dan mengumpulkan biaya pengobatan mulai dari kuli bangunan, tukang las, memperbaiki perabotan, servis elektronik sampai membuat tanaman hias seperti bonsai. Di sisi lain, Bu Dini tidak ada waktu dan tenaga untuk bekerja karena mesti mengurusi si kembar dan anak-anaknya yang lain. Biaya kontrakannya sendiri adalah 650 ribu per bulan, biaya obat-obatan si kembar mencapai 750 ribu per bulan dan itu belum termasuk biaya kontrol dan juga transportasi dari Subang ke Bandung yang jika ditotal mencapai lebih dari tiga juta rupiah. 

“Meski berat, saya percaya Allah memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Jika nyawa saya bisa ditukar untuk kesembuhan Syafa’at dan Hidayat, Insya Allah saya rela, Pak, apapun saya lakukan,” ungkap Pak Azis sambil menangis. 

Para penderma, mari kita bantu perjuangan Pak Azis dan Bu Dini untuk menyelamatkan dua malaikat kecilnya yang mesti segera dioperasi sebelum kondisinya semakin gawat.

Disclaimer:

1.  Donasi hanya akan disalurkan kepada penerima manfaat dengan tujuan memberikan pertolongan untuk orang-orang yang membutuhkan.

2.  Donasi juga akan disalurkan kepada pihak lain (penerima manfaat yang sejenis) di luar kampanye galang dana ini yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh penderma.id. 

3.  Tim penderma.id akan menentukan penyaluran bantuan berdasarkan bebagai faktor, seperti urgensi penerima manfaat, kecukupan dana, dan faktor lainnya 

4.  Cerita yang ada di halaman kampanye ini akan diganti secara berkala sesuai dengan topik dan kebutuhan orang-orang yang membutuhkan.

Risnaldi Priandana
Risnaldi Priandana - Rp 30.000
Eno
Eno - Rp 10.000
M
M - Rp 10.000
Risnaldi Priandana
Risnaldi Priandana - Rp 40.000
WFA
Hamba Allah - Rp 50.000
a
a - Rp 10.000
Syarifah Muthia Putri
Syarifah Muthia Putri - Rp 10.000
Iman
Hamba Allah - Rp 50.000
Semoga diberi kesehatan
mesi
mesi - Rp 20.000
Aty Kurniawati
Aty Kurniawati - Rp 100.000

Top