Gawat! Terancam Infeksi Bantu Dek Rahmat Agar Memiliki Lubang Anus

-

Total Kebutuhan:

Rp 450.000.000

“Bau ih, jorok banget, udah tahu kayak gitu masih saja dibawa-bawa,” ucap Bu Ayu (30 tahun) sambil terisak saat menirukan komentar orangtua murid lain tentang anak kesayangannya, Rahmat Hidayat (3 tahun) yang dibawa ke sekolah kakak-kakaknya untuk sekadar mengantar.  Dik Rahmat lahir tanpa memiliki lubang anus atau mengidap penyakit bernama Congenital Absence, Atresia and Stenosis of Anus without Fistula.  Kondisi demikian membuat Dik Rahmat harus merasakan 3 kali operasi untuk pembuatan saluran pembuatan kotoran sementara yang terletak di perut sebelah kirinya.  


Saluran pembuatan sementara tersebut hanya ditutupi dengan plastik biasa yang direkatkan dengan double tape. Hal tersebut terjadi karena orangtua DIk Rahmat tidak mampu untuk membeli plastik medis khusus seharga 45 ribu rupiah yang harus setiap hari dibeli. Jika plastik tersebut tidak diganti, maka usus yang menjadi saluran pembuangan kotorannya akan mengalami infeksi. Saluran pembuangan sementara di perut tersebut mengakibatkan Dik Rahmat tidak bisa tengkurap dan selalu merasa kesakitan saat BAB. Tidak jarang ia juga kerap mengalami pendarahan. Jika saluran pembuangan sementaranya ini bermasalah, perutnya akan semakin membesar.  


Biaya pengobatan dan operasi Dik Rahmat saat ini sebagian ditanggung oleh BPJS dan dibantu oleh pemerintah setempat. Namun untuk menutupi sisa biaya dan kebutuhan transportasi serta akomodasi ke rumah sakit, kedua orangtuanya, yakni Pak Warja (34 tahun) dan Ibu Ayu mengaku sangat kerepotan, mengingat keadaan ekonomi keluarga Dik Rahmat yang masuk ke golongan kurang mampu.  


Rumah yang ditempati keluarga Dik Rahmat terbuat dari panggung kayu dan anyaman bambu seadanya. Dengan kondisi yang jauh dari layak, rumah mereka sering bocor saat hujan turun. Bahkan jika hujan tersebut sangat besar, mereka sampai perlu mengungsi ke rumah kerabatnya.  


Setiap hari, Pak Warja hanya bertani di tanah yang sempit milik pemerintah, dengan hasil yang hanya cukup untuk makan keluarganya saja. Sementara itu, Bu Ayu adalah ibu rumah tangga yang waktu dan tenaganya sudah tercurahkan sepenuhnya untuk mengurusi Dik Rahmat beserta kakak-kakaknya. 

Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan membuat mereka bingung jika ingin memeriksakan Dik Rahmat ke RS di Bandung. Bertempat tinggal di Subang, mereka harus menempuh jarak sekitar 60 kilometer dengan menggunakan angkutan umum.   

“Kalau naik kendaraan umum bisa habis 1 juta saja sekali kontrol, tapi kalau sewa mobil bisa sampai 2 jutaan termasuk untuk makan selama di rumah sakit,” ucap Bu Ayu. Padahal, dengan jarak yang sangat jauh ditambah kondisi Dik Rahmat yang harus menahan nyeri di perutnya, kondisi demikian sangat membahayakan dan membuat tidak nyaman.  

Meski demikian, keterbatasan yang mereka miliki tidak membuat kedua orangtua Dik Rahmat berhenti memperjuangkan anak kesayangannya agar memiliki kehidupan normal seperti anak-anak lainnya.  

Para penderma, tidakkah Anda tersentuh melihat nasib Dik Rahmat dan perjuangan kedua orangtuanya? Yuk, bantu mereka sekarang juga!

Disclaimer:

1.  Donasi hanya akan disalurkan kepada penerima manfaat dengan tujuan memberikan pertolongan untuk orang-orang yang membutuhkan.

2.  Donasi juga akan disalurkan kepada pihak lain (penerima manfaat yang sejenis) di luar kampanye galang dana ini yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh penderma.id. 

3.  Tim penderma.id akan menentukan penyaluran bantuan berdasarkan bebagai faktor, seperti urgensi penerima manfaat, kecukupan dana, dan faktor lainnya 

4.  Cerita yang ada di halaman kampanye ini akan diganti secara berkala sesuai dengan topik dan kebutuhan orang-orang yang membutuhkan.

 Hamba Allah
Hamba Allah - Rp 30.000
 Hmba
Hmba - Rp 10.000
 Kel hartono
Kel hartono - Rp 30.000
 Nadia
Nadia - Rp 10.000
 Hamba Allah
Hamba Allah - Rp 10.000
 Alm Indra Wijaya, almh rakena, almh Rahmani
Alm Indra Wijaya, almh rakena, almh Rahmani - Rp 30.000
 Asty
Asty - Rp 20.000
 Elisabeth maria farida juni janah
Elisabeth maria farida juni janah - Rp 100.000
 aerjes S
aerjes S - Rp 10.000
 Db
Db - Rp 100.000

“Bau ih, jorok banget, udah tahu kayak gitu masih saja dibawa-bawa,” ucap Bu Ayu (30 tahun) sambil terisak saat menirukan komentar orangtua murid lain tentang anak kesayangannya, Rahmat Hidayat (3 tahun) yang dibawa ke sekolah kakak-kakaknya untuk sekadar mengantar.  Dik Rahmat lahir tanpa memiliki lubang anus atau mengidap penyakit bernama Congenital Absence, Atresia and Stenosis of Anus without Fistula.  Kondisi demikian membuat Dik Rahmat harus merasakan 3 kali operasi untuk pembuatan saluran pembuatan kotoran sementara yang terletak di perut sebelah kirinya.  


Saluran pembuatan sementara tersebut hanya ditutupi dengan plastik biasa yang direkatkan dengan double tape. Hal tersebut terjadi karena orangtua DIk Rahmat tidak mampu untuk membeli plastik medis khusus seharga 45 ribu rupiah yang harus setiap hari dibeli. Jika plastik tersebut tidak diganti, maka usus yang menjadi saluran pembuangan kotorannya akan mengalami infeksi. Saluran pembuangan sementara di perut tersebut mengakibatkan Dik Rahmat tidak bisa tengkurap dan selalu merasa kesakitan saat BAB. Tidak jarang ia juga kerap mengalami pendarahan. Jika saluran pembuangan sementaranya ini bermasalah, perutnya akan semakin membesar.  


Biaya pengobatan dan operasi Dik Rahmat saat ini sebagian ditanggung oleh BPJS dan dibantu oleh pemerintah setempat. Namun untuk menutupi sisa biaya dan kebutuhan transportasi serta akomodasi ke rumah sakit, kedua orangtuanya, yakni Pak Warja (34 tahun) dan Ibu Ayu mengaku sangat kerepotan, mengingat keadaan ekonomi keluarga Dik Rahmat yang masuk ke golongan kurang mampu.  


Rumah yang ditempati keluarga Dik Rahmat terbuat dari panggung kayu dan anyaman bambu seadanya. Dengan kondisi yang jauh dari layak, rumah mereka sering bocor saat hujan turun. Bahkan jika hujan tersebut sangat besar, mereka sampai perlu mengungsi ke rumah kerabatnya.  


Setiap hari, Pak Warja hanya bertani di tanah yang sempit milik pemerintah, dengan hasil yang hanya cukup untuk makan keluarganya saja. Sementara itu, Bu Ayu adalah ibu rumah tangga yang waktu dan tenaganya sudah tercurahkan sepenuhnya untuk mengurusi Dik Rahmat beserta kakak-kakaknya. 

Kondisi ekonomi yang serba pas-pasan membuat mereka bingung jika ingin memeriksakan Dik Rahmat ke RS di Bandung. Bertempat tinggal di Subang, mereka harus menempuh jarak sekitar 60 kilometer dengan menggunakan angkutan umum.   

“Kalau naik kendaraan umum bisa habis 1 juta saja sekali kontrol, tapi kalau sewa mobil bisa sampai 2 jutaan termasuk untuk makan selama di rumah sakit,” ucap Bu Ayu. Padahal, dengan jarak yang sangat jauh ditambah kondisi Dik Rahmat yang harus menahan nyeri di perutnya, kondisi demikian sangat membahayakan dan membuat tidak nyaman.  

Meski demikian, keterbatasan yang mereka miliki tidak membuat kedua orangtua Dik Rahmat berhenti memperjuangkan anak kesayangannya agar memiliki kehidupan normal seperti anak-anak lainnya.  

Para penderma, tidakkah Anda tersentuh melihat nasib Dik Rahmat dan perjuangan kedua orangtuanya? Yuk, bantu mereka sekarang juga!

Disclaimer:

1.  Donasi hanya akan disalurkan kepada penerima manfaat dengan tujuan memberikan pertolongan untuk orang-orang yang membutuhkan.

2.  Donasi juga akan disalurkan kepada pihak lain (penerima manfaat yang sejenis) di luar kampanye galang dana ini yang telah memenuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh penderma.id. 

3.  Tim penderma.id akan menentukan penyaluran bantuan berdasarkan bebagai faktor, seperti urgensi penerima manfaat, kecukupan dana, dan faktor lainnya 

4.  Cerita yang ada di halaman kampanye ini akan diganti secara berkala sesuai dengan topik dan kebutuhan orang-orang yang membutuhkan.

Hamba Allah
Hamba Allah - Rp 30.000
Hmba
Hmba - Rp 10.000
Kel hartono
Kel hartono - Rp 30.000
Nadia
Nadia - Rp 10.000
Hamba Allah
Hamba Allah - Rp 10.000
Alm Indra Wijaya, almh rakena, almh Rahmani
Alm Indra Wijaya, almh rakena, almh Rahmani - Rp 30.000
Asty
Asty - Rp 20.000
Elisabeth maria farida juni janah
Elisabeth maria farida juni janah - Rp 100.000
aerjes S
aerjes S - Rp 10.000
Db
Db - Rp 100.000

Top